Antara Rest Room dengan Jamban

Tahun 2003 di awal masuk ke perusahaan tempat kerja aku sekarang, saya mendengar tersedia satu ruangan di perusahaan aku yang disebut Rest Room. Pikiran aku langsung membayangkan, tentu Rest Room layaknya di hotel-hotel atau restoran berbintang. Di tempat-tempat itu, Rest Room merupakan jamban atau kakus atau saat ini kami lebih mengenalnya bersama dengan sebutan toilet. Karena di area mahal kali ya, makanya orang nyebutnya lain! Padahal fungsinya kan sama.

Orang Barat memang menyebut jamban/kakus itu dengan sebutan yang terlalu terhormat “rest room” (yang arti harfiahnya adalah tempat istirahat) sebab jamban/kakus di mereka diperuntukkan untuk membebaskan penat dan menghilangkan (maaf) yang sebelumnya ditahan-tahan. Sehingga mereka mengakibatkan ruangan itu benar-benar nyaman, wangi, bersih dan terawat, serta tetap ada segala fasilitasnya seperti cermin, wastafel, sabun pencuci tangan, tissue, pengering tangan, daerah sampah dan lain-lain.

Kembali ke Rest Room-nya area kerja saya. Ternyata belakangan sesudah itu aku baru mengerti bahwa Rest Room itu diisi oleh para driver, alias ruangan itu area para driver standby menunggu tugas. Singkatnya area itu sebetulnya lebih tepat disebut Ruang Driver (Driver Room).

Lho, kok ruangan driver disebut Rest Room?

Melihat dalamnya ruangan, saya menduga-duga, mungkin ruangan itu disebut Rest Room dikarenakan terkandung bagian ruangan yang dipakai sebagai tempat tidur (?, berguna sebagai mushola juga). Nah, bermakna kan area istirahat!

Atau sebetulnya sebab tersedia toilet/WC-nya? Toilet atau Sedot WC Jakarta Barat kan disebut Rest Room seperti aku singgung di atas!

Mudah-mudahan basic penyebutan Rest Room itu gara-gara alasan yang kedua, bukan karena alasan pertama!

Istilah yang kemungkinan tidak tidak benar tetapi tidak cukup tepat! (he..he..he..)

Lebih lanjut, ngomong-ngomong mengenai toilet, asal kata toilet ini adalah berasal dari bhs Inggris yang berarti ruangan untuk buang air (atau “buang hajat”, maaf saya tidak tahu makna mana yang lebih sopan) atau sebutan untuk alat untuk buang air, yang didalam perihal ini berarti kloset (baik jongkok maupun duduk) atau urinoir (tempat pi* itu lho!).

Urinoir, bersama sedikit keisengan pengelolanya (sumber gambar: aromic.free.fr)

Ada termasuk yang menyatakan bahwa toilet berasal berasal dari bhs Perancis, agar jangan heran kecuali ada di antara kami yang melafalkan toilet ini “toale” (sambil suaranya di-sengau-kan agar lebih keliatan French-nya, he..he..he…)

Bagaimana dengan WC?

Sebenarnya, istilah WC ini berasal berasal dari makna bahasa Inggris “Water Closet” yang disingkat WC. Akan tetapi singkatan Sedot WC Jakarta Selatan ini telah jadi istilah tersendiri di beberapa bhs Eropa, dan tidak benar satunya adalah bahasa Belanda, negara yang dulu menjajah kita supaya mereka menularkannya kepada kita. Orang Belanda melafalkannya “waysay”, selagi lidah orang kami menyebutkannya “wese”. (simpel banget ya?)

Orang Inggris sendiri nyaris tidak dulu menyebut WC untuk toilet. Makanya aneh kecuali tersedia istilah “double yu si”.

Bagaimana bersama dengan orang Indonesia?

Ada yang menyebut WC, ada yang menyebut kamar mandi, kakus, jamban, “aer” (Bukan “air”, layaknya contoh:” Maaf, saya senang ke aer sebentar”). Atau juga istilahnya sering dihaluskan bersama sebutan “belakang”, atau pun “kamar kecil”. Silakan kamu manfaatkan makna yang paling anda suka! (he..he..he..)

Sebagai petunjuk/identitas ruangan toilet umum, di depannya umumnya ada istilah/identitas yang menyatakan bahwa ruangan itu adalah toilet umum. Identitas itu bersifat tulisan “MEN” atau “GENTS” dan “WOMEN” atau “LADIES”. Istilah ini dipakai untuk memisahkan ruangan toilet berdasarkan gender/jenis kelamin yang memakainya. Kenapa dipisah? Tanya tuh kepada kaum wanita? Kalau bikin laki-laki, kayaknya fine-fine aja digabung juga…..(Hush…becanda!)

Istilah di atas umumnya digunakan di tempat-tempat layaknya hotel, restoran, bandara, kantor perusahaan asing. Sementara di terminal bis, di pasar, atau di tempat-tempat umum lain, memadai tulisan “WC LAKI-LAKI” dan “WC WANITA”. (ditambah postingan “BUANG AIR KECIL RP 1000, BUANG ….stop! tidak usah dilanjutkan…he..he..he..)

Banyak juga pemisahan ruangan berdasarkan gender untuk toilet lazim hanya ditandai bersama dengan logo/gambar orang dengan bentuk badan segitiga untuk wanita dan badan lurus untuk laki-laki. Kenapa untuk wanita gambarnya segitiga ya? Oooh…itu barangkali sebab wanitanya dianggap memakai rok. Kalau nggak memanfaatkan rok?…Silakan jawab sendiri!

Toilet kering (dry toilet)?

Di Indonesia, jarang ditemukan toilet yang terlalu mencukupi persyaratan sebutan toilet kering, mengingat budaya orang Indonesia yang tidak bisa lepas dari air di dalam kegiatan di toilet. Di toilet kering beneran, siap-siap saja untuk merasa tidak enak. Pasalnya, di toilet kering, tidak ada shower/semprotan air untuk “cebok” (maaf) setelah BAB, apalagi ada ember dan gayung!

Saya punyai pengalaman bersama dengan toilet kering ini. Karena terpaksa telah di ujung tanduk dan tidak tersedia lagi toilet basah, aku dulu pakai toilet tipe ini. Aduh, sehabis selesai. Ampyuuun deh! Cuma pake tissue buat bersih-bersihnya. Tissuenya sebenarnya selamanya tersedia, namun dikarenakan kita orang Indonesia sudah terbiasa bersama dengan air untuk pembersih, ya gitu dechhh!

Nggak mulai cebok (maaf) begitu muncul dari toilet…ha..ha..ha..(jadi malu sendiri)

Automatic Urinoir?

Ada perihal lain. Umumnya urinoir di kami tersedia tombol membuat pembilas/penyiramnya (flush). Nah jadi kita, untuk yang muslim, pada kala air penyiramnya keluar, kita juga melakukan istinjak (membersihkan … setelah membuang air). Di negara maju, banyak yang urinoirnya telah tidak manfaatkan tombol lagi, menjadi pembilasnya dapat bekerja sendiri bersama dengan manfaatkan sensor. Di kita urinoir jenis ini terhitung sekarang udah merasa banyak, di toilet umum hotel-hotel bintang atau di toilet restoran berbintang atau juga di toilet perusahaan multinasional!

Saya punya pengalaman lucu sewaktu pertama kali memakai urinoir model ini, pernah saat di Jepang. Maklum masih kampungan, belum biasa alat-alat yang otomatis. Pada pas BAK, belum seutuhnya selesai BAKnya air flush udah menyiram. Akhirnya pas selesai BAK, sebab kita tetap mesti air membuat istinjak, ya kami mencegah dari dulu berasal dari situ agar sensornya bekerja dan balik lagi untuk mengambil air. Tentu saja dengan risleting celana tetap terbuka dan ….he..he..he..(malu!)

Sialnya, satu kali mundur tetap balik lagi, airnya belum keluar. Sekali kembali mundur dan mendekat lagi, belum muncul juga. Akhirnya setelah mundur dan maju yang ketiga, sanggup keluar termasuk air pembilasnya. Syukur deh…aman dan aku mampu menunaikan kewajiban istinjak.

Cuma, malu banget diliatin orang2 di sekitar. Mungkin disangkanya kembali ngapain orang ini. Ha..ha..ha..

Selanjutnya, aku menyadari kiat hadapi urinoir type ini. Cukup miringkan badan anda ke kiri atau ke kanan (sesuai arah sumber cahaya), dan lagi kembali ke posisi semula, air flush itu bakal ngocor keluar.

Anda dulu mengalami kejadian serupa? Mudah-mudahan tidak. He..he..he..

If you have any issues about exactly where and how to use Sedot WC, you can contact us at the site.

ใส่ความเห็น